Is He Really Dead?

Is he really dead? I often question myself.

Been living away from your parent(s) for about five years might’ve caused confusion. There would be days when Dad didn’t call me. And those were the days before he passed away.

Sometimes I think he is alive. He would be working out of the town as always, he weren’t home as always, so when I come home and he wasn’t there, I wouldn’t be surprised.

But then I remember, he’d never done that. He would come home when I come home, or he would ask me to fly to Banjarmasin and then we would meet up in his work place before we went home in East Kalimantan.

But then again, it wouldn’t happen anymore.

February was the last time I saw him eyes to eyes, alive and breathing. When I arrived at the ICU back on April 17th, I couldn’t get in to the Icu. And when I come to the ICU tomorrow morning, he was lying on the bed, eyes were closed, and his breath was shallow. He was helpless. Later that day, the doctor put ventilator in him and he went to his first cardiac arrest.

Crabby patty, my hands are trembling. I cried few minutes ago so this is not going to be very funny if I cry again.

Oh, January 26th. It’s coming soon. My birthday, also the first day I saw him lying on the bed home with oxygen tank next to him. My birthday has never been special, and I think starting next year, it would become a not-so-good reminder of Dad’s condition.

Advertisements

Mungkin Enam Bulan Sudah

Enam bulan, sayangku.

Tidak. Aku rasa sudah lebih dari enam bulan lamanya sejak aku menginjakkan kaki di Alun-Alun Kota Malang.

Aku menarik napasku, mataku menyapu pemandangan familiar yang setidaknya hingga beberapa bulan lalu masih sering aku kunjungi. Hingga kemudian beliau mengatakan: “Tidak perlu lagi membeli obat dari Malang. Rumah sakit kota kita sudah menyediakan. Dan gratis.”

Saat itu hatiku gembira. Itu artinya beliau tidak perlu lagi menggunakan nebulator ketika menunggu pasokan obat dariku datang. Itu artinya beliau tidak perlu lagi mengirimi uang untuk membeli obat mahal itu di apotek yang kebetulan berada di sekitar alun-alun kota.

Tapi, brengsek, ternyata hal itu tetap saja bukan pertanda bagus.

Memori terakhirku adalah ketika beliau mengirimiku foto obat dengan pesan: “Ini obatnya. Di sini harganya mencapai lebih dari tujuh ratus ribu.”

Aku menahan napas. Oh, God, great, God. Mahal sekali, pikirku saat itu. Tapi jika itu memang bisa membantu beliau sembuh, aku tetap akan berangkat.

Sembuh!

Satu kata yang akan membuatku menertawakan diriku yang sekarang. Mengingatkanku akan diriku yang ceroboh. Dan aku bukan orang yang ceroboh.

Ketika kecerobohanku berulah, maka itu adalah: 1) menginjak ular berbisa yang membuatku dilarikan ke UGD terdekat; 2) memotong sebagian daging di ujung jariku hingga sekujur tanganku menjadi pusat pasi karena kehilangan banyak darah; 2) tidak mencari tahu soal penyakit ayahku yang kemudian berujung ke kematiannya.

Aku masih menyumpahi diriku sendiri hingga sekarang.

Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku mencari tahu.

Tapi yang kulakukan hanyalah menjadi anak pertama yang tidak berguna, yang bahkan tidak berada di samping ayahnya ketika beliau memasuki masa-masa kritis.

Brengsek, lagi, sumpahku.

Maka kembalilah aku ke Alun-Alun Kota Malang.

Aku menelan ludahku. Jika saat itu aku tidak bersama temanku, mungkin aku sudah berdiri di pinggir jalan sembari menatap taman besar itu dengan tatapan kosong.

Hingga akhir tahun lalu aku masih sering berada di sana.

“Yun, gimana obatnya?”

“Sudah Yuni kirim lewat kantor pos. Ini Yuni kirimkan resinya ya, Bah.”

Begitulah kira-kira percakapan kami setiap bulan.

Spirivia, Seretide Diskus, Symbicort; tiga obat yang setia aku kirimkan setiap bulan ke rumah demi menahan ganasnya penyakit beliau. Tiga obat yang botolnya tidak akan pernah aku buang sebagai pengingat bahwa aku pernah sebegitu cerobohnya.

Tiga Bulan Sudah: And He Didn’t Look at My Eyes Anymore

If I had the Time-Turner, I’d go back to 15th April 2017, around 2 PM. I’d stay still in the shadow, waiting for his call and then record his voice for the last time. I wouldn’t change the history. I just wanted to hear his voice.

He called me that day. Just a brief conversation, as usual. He asked me about my preparation to move to a new boarding house. I told him I’ll ship the rest of my stuffs (books here and there) home tomorrow on 16th April.

We barely talked a lot, unless it was such an interesting topic. But my Dad always listened when I told him about my jobs. I think it was because he was so glad that, even though I cancelled (or delayed) my plan to take Civil Engineering, I could find my own path I have decided recklessly six years ago. Continue reading

Tiga Bulan Sudah: Those Scenes I Saw in Dramas, It Happened Right Before My Eyes.

Sudah banyak orang yang menunggu di depan ruang ICU. Sepertinya berita bahwa Abah masuk ICU sudah menyebar, termasuk di kalangan teman-teman Abah.

Aku berlari keluar dari lift dan memeluk Mama yang sudah kelihatan lusuh.

“Abah di mana?”

Mama langsung membawaku ke depan pintu ICU dan menunjukkan posisi ranjang Abah. Saat aku mengintip dari kaca ICU, Abah masih bergerak. Ia terus-menerus menggerakkan tubuhnya: ke kanan, ke kiri. Setidaknya ia masih bergerak. Ia masih sadar.

He is fine, right? He is going to be fine, right?

Sekitar pukul sepuluh malam, aku pulang ke rumah menggunakan motor milik tetanggaku. Mama menyuruhku untuk mandi dan membawa beberapa pakaian ke rumah sakit karena sepertinya kami tidak akan pulang hingga beberapa hari ke depan. I got anxious when my Mom said that because I knew very well that my Dad’s condition was… unstable. He was always been unstable since October last year. But I didn’t know that it was much… worse. Continue reading

Tiga Bulan Sudah: I Thought Everything Would Be Okay

Tiga bulan sudah sejak telepon dini hari dari Mama yang memintaku pulang.

Saat itu aku tidak menyangka bahwa kepulanganku tidak akan hanya sekedar satu-dua hari saja, tapi berlanjut hingga tiga bulan kemudian.

Masih segar betul dalam memoriku: sekitar pukul 04.05 WIB Mama menelponku, memberitahuku bahwa Abah masuk ICU. Aku yang saat itu masih setengah sadar karena baru tidur sekitar dua jam setelah lembur, malah kembali menutup mata. Adzan Subuh berkumandang, Mama kembali menelponku bahwa beliau tidak bisa mengirimi uang untuk membeli tiket pesawat dan aku harus mencari biaya sendiri.

Seketika mataku terbuka, walau tidak segar-segar amat. This is serious¸pikirku setelah sadar. Migrain masih bisa kurasakan, akupun langsung mengecek harga tiket dan mencelos melihat harganya. Aku menelan ledah karena memikirkan suatu hal. Pelan, aku mengetik dan mengirimi pesan ke salah satu teman dekatku untuk meminjam sejumlah uang. I swallowed my pride not to borrow money from my friends because it was urgent.

Continue reading

Tiga Bulan Sudah

Ketika aku mengecek tanggal hari ini, aku mendapati hal yang menarik: tanggal dan hari di bulan Juli ini benar-benar sama persis seperti bulan April lalu. Tanggal 16 di hari Minggu, tanggal 17 di hari Senin, dan seterusnya…

Selama tiga bulan ini aku terus-menerus berpikir: sanggupkah aku menuliskan apa yang terjadi tiga bulan lalu? Sanggupkah aku memutar ulang memori tiga hari paling menegangkan dalam hidupku?

Kemudian aku terkekeh sendiri. Aku sudah berencana menuliskannya sejak seminggu setelah kejadian tersebut, sebulan, dua bulan, hingga kemudian aku kembali ke Malang lagi tiga bulan kemudian.

Kalau aku mengatakan “rasanya semua itu seperti mimpi”, rasanya terdengar terlalu klise. Tapi, semuanya memang terasa seperti mimpi. Masih ada saat-saat di mana aku berpikir seperti biasanya: “Ah, aku harus menelpon Abah dan menceritakan semuanya nanti.” Hingga kemudian kenyataan menghantamku dan aku harus tertawa pedih sendiri.

Girl, you forgot your Dad is dead?

Aku bukan hanya kehilangan sosok ayah. Kehilangan lain yang paling bisa aku rasakan adalah aku kehilangan teman diskusi yang luar biasa, seorang guru yang pintarnya membuat geleng kepala. Walau aku selalu bisa menceritakan apa yang aku ketahui kepada orang-orang di sekitarku, aku masih belum menemukan orang yang bisa memberikan respon seperti Abah. Tidak ada orang seperti Abah yang bakal ngebela-belain menelpon hanya untuk memberitahuku bahwa Dahlan Iskan sedang muncul di televisi, padahal aku tidak punya televisi di kos….

Satu minggu, dua minggu… banyak diskusi yang bergulir di antaraku dan keluarga, dengan Mama dan adikku, Fakhry. Mulai dari masa depanku, kuliah Fakhry, apa yang harus kita lakukan di Kaltim, apakah sebaiknya kita pindah ke Kalsel, bahkan ada yang bertanya-tanya apakah Mama akan kembali ke Jawa setelah ini (yang tentunya dijawab “Tidak!” dengan tegas oleh Mama).

Rasanya seperti kehilangan induk.

Kami pindah ke Kaltim sekitar Maret 2000. Ceritanya sih, ceritanya… pasca kerusuhan di Banjarmasin tahun 1997 dan reformasi 1998, proyek di Kalimantan Selatan banyak yang macet. Hingga Abah akhirnya terbang ke Kalimantan Timur, ke Berau, Samarinda, Sangatta, dan berbagai tempat lainnya untuk mencari pekerjaan. Karena proyek beliau saat itu banyak di Kaltim dan seorang teman juga baru membangun perusahaan, maka diboyonglah kami ke Kaltim.

Lucunya, sekitar tahun 2009-2010, Abah kembali bekerja di Kalsel, tepatnya di Tanjung, Kabupaten Tabalong.

Kalau mengingat masa-masa itu, rasanya pengen nonjok-nonjok dinding. Mungkin karena aku dan Fakhry masih bersekolah, beliau tidak mau repot-repot untuk memboyong kami lagi. Apalagi Mama juga mulai bekerja lagi. Maka Abah mengalah, bolak-balik Kaltim-Kalsel setiap satu-dua minggu sekali. Kadang satu bulan sekali. Jadi, kami memang sudah terbiasa tidak melihat Abah setiap hari.

It was such an irony: ketika Abah akhirnya istirahat total di rumah sejak Oktober 2016, ternyata itu adalah masa-masa “persiapan” sebelum menghadapi kematian.

Ada saat-saat di mana aku merasa sangat marah setiap kali mengingat betapa teganya Abah meninggalkan kami. Salah satu adik Abah bercerita bahwa Abah sebenarnya hendak memboyong kami kembali ke Kalsel. Hanya saja karena satu-dua hal, maka rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena tanah yang sudah beliau beli dijual lagi. Hingga kematian beliau, rencana itu tidak pernah terlaksana.

Aku merasa ini pernyataan yang kejam, tapi percayalah: East Kalimantan doesn’t feel like home anymore without my Dad.

Tiga bulan lalu, ketika aku bertamu ke Asrama Paser, Mama menelponku dengan panik bahwa Abah kambuh kembali. Saat itu aku tidak tahu bahwa “kambuh” yang dimaksud di sini bukanlah kambuh seperti biasanya. Sekedar susah bernapas, diberi bantuan oksigen, kemudian akan normal kembali. Saat itu aku tidak tahu bahwa Abah sebenarnya dilarikan ke IGD.

Saat itu aku masih tidak mengerti bahwa itu akan menjadi hal yang memulai dan mengakhiri segalanya.

PS: Tulisan ini kacau sekali. Maklumlah, aku sudah tidak menulis selama berbulan-bulan. Rasanya sungguh sulit menulis dengan kondisi pikiran kalut setiap kali mulai bersemedi dan berpikir.