Tiga Bulan Sudah: And He Didn’t Look at My Eyes Anymore

If I had the Time-Turner, I’d go back to 15th April 2017, around 2 PM. I’d stay still in the shadow, waiting for his call and then record his voice for the last time. I wouldn’t change the history. I just wanted to hear his voice.

He called me that day. Just a brief conversation, as usual. He asked me about my preparation to move to a new boarding house. I told him I’ll ship the rest of my stuffs (books here and there) home tomorrow on 16th April.

We barely talked a lot, unless it was such an interesting topic. But my Dad always listened when I told him about my jobs. I think it was because he was so glad that, even though I cancelled (or delayed) my plan to take Civil Engineering, I could find my own path I have decided recklessly six years ago.

* * *

Sekitar pukul satu malam, aku merasa ada orang yang menatapku.

“Yun…?”

Ketika aku membuka mata, aku mendapati wajah yang baru satu kali kutemui di bulan Februari lalu, tapi sering kuhubungi selama dua hari terakhir: Dokter Rifani, dokter spesialis paru yang menangani Abah sejak September 2016.

“Dokter.” Aku langsung melompat dari tidurku dan mengusap wajahku.

“Ayo sekarang.”

Aku berdiri dengan hati-hati, baru sadar bahwa adikku tertidur hingga menempel di punggungku. Mungkin karena dingin, dan ia sudah terlalu lelah untuk tidur dengan posisi yang lebih baik.

Sebelum adikku datang, aku memang sempat memberikan pesan pada perawat jaga bahwa aku hendak menemui Dokter Rifani. I was in the dark. Aku baru tahu nama penyakit abahku Februari lalu, aku baru mulai mempelajarinya, dan aku tidak tahu separah apa kondisi Abah hingga tidak sadarkan diri selama hampir dua hari.

Later, I just found out that all of us were in the dark for almost nine years.

Aku mengikuti Dokter Rifani ke ICU. Beliau mengambil amplop yang sangat besar dari meja jaga perawat kemudian mengajakku untuk duduk, jauh dari pendengaran para perawat.

“Yuni sudah tahu penyakit Abah, kan?”

Aku mengangguk.

“Dokter, ini Yuni. Dokter ngga perlu memperhalus penjelasan Dokter. Semuanya tolong dijelaskan secara gamblang aja, Dok.”

Dokter Rifani membuka amplop besar tersebut dan menarik keluar hasil scan terbaru Abah dan memulai penjelasannya.

Paru-paru kanan sudah sekitar 97% tidak berguna, hanya alveolus di bagian bawah paru yang masih bisa digunakan tapi itupun tidak berfungsi karena terhalang giant bullae di paru-paru kanan. Lihat scan ini, Yun. Sayangnya alveolus di paru-paru kiri sudah sekitar 7% mulai “pecah” sehingga saat ini hidup Abah hanya ditopang oleh satu paru-paru yang juga tidak sempurna. Jantung? Jantungnya baik. Masih berfungsi dengan normal. Tapi seperti itulah, saat ini hidup Abah benar-benar tergantung pada ventilator.

“Ada satu opsi, tapi ini dilakukan kalau sudah sangat terpaksa.”

“Apa itu, Dok?”

“Abah bisa dioperasi, tapi resikonya sangat besar.”

Bahkan tanpa dijelaskan lebih lanjut aku sudah paham pembicaraan itu akan mengarah ke mana.

“Nanti Yuni sampaikan aja dulu ke Mama soal penjelasan saya, ya. Saya ngga berani menjelaskan ke Mama sejak dulu, jadi selama ini saya cuma ngasih tau yang baik-baik aja ke Mamamu. Saya takut Mamamu bakal pingsan kalau mendengar penjelasan saya.”

Aku mengangguk lagi dan pertemuan kami malam itu berakhir dengan isi otakku yang penuh.

* * *

Usai shalat subuh, aku kembali menelpon pamanku untuk menanyakan persiapan keberangkatan mereka ke Tanah Grogot.

“Iya, Yun. Kami berangkat pagi ini. Menunggu Uwak Rosnani, terus nanti ngejemput Tante Atul di Tanjung.”

Aku menyampaikan berita tersebut kepada Mama dan bisa mendapati sedikit raut kelegaan terpancar dari wajahnya.

Aku keluar dari ruang ICU dan duduk bersama adikku di lantai sembari mengunyah buah pir yang dibawakan orang-orang yang menjenguk. Aku baru sadar bahwa terakhir kali aku mengkonsumsi karbohidrat adalah Senin lalu, ketika mendarat di Sepinggan, Balikpapan. Mungkin kurang lebih sudah 40 jam sejak aku terakhir kali makan dengan normal.

Sekitar pukul tujuh, Tante Tiani dan Paman Kaim datang lagi ke ICU dan membawakan kami makanan. Aku yang saat itu masih belum memiliki nafsu makan menyuruh adikku untuk makan terlebih dahulu.

Tak lama, beberapa tetanggaku, guru-guru di sekolah Mama dan teman-teman Abah kembali datang. Beberapa wajah terlihat sangat familiar karena aku sudah melihat mereka sejak aku tiba di rumah sakit Senin malam lalu. Usut punya usut, mereka datang ke ICU setiap hari. Walau mereka hanya berdiam di depan ICU, sambil sesekali mengintip melalui kaca. Mamaku tidak menemui mereka karena beliau benar-benar menolak untuk keluar dari ICU, sehingga akulah yang menyambut mereka.

I was impressed by the numbers of engineers gathered in one place.

I couldn’t help it. I think my Dad was awesome as an engineer, the reason why once I had a motivation to take Civil Engineering when I was in high school. He used to work for a friend’s company before it got into bankruptcy. And then for the last 13 years, my Dad had become a freelancer and I’ve barely seen any of his colleagues anymore. That’s why: it was impressive.

Aku terus-menerus keluar-masuk ICU. Peraturan jam besuk yan terbatas itu sudah tidak aku dan Mama pedulikan.

“Ma, Fakhry masih punya tanggungan UTS dan katanya mau pulang sebentar buat ngerjakan tugas.”

“Ya, sudah. Pulang sana. Fakhry pamit dulu sama Tante Tiani dan Paman Kaim, siang ini mereka balik ke Pelaihari. Nanti sekalian bersihkan rumah. Rumah belum disentuh sejak Mama tinggal hari Minggu kemaren. Setelah itu langsung balik ke rumah sakit, ya.”

Ketika aku sampai rumah, aku baru benar-benar menyadari kondisinya. Ketika aku pulang Senin malam itu, aku tidak memperhatikan rumah sama sekali selain segera mandi dan memasukkan beberapa pakaian ganti ke tas punggungku. Aku melihat nasi dan sayur yang sudah mulai berjamur, air kencing Abah yang belum dibuang, peralatan makan yang masih berantakan di kamar orangtuaku, kemudian tabung oksigen yang berukuran sama besarnya dengan yang ada di ICU…

Sejak kapan Abah menggunakan tabung oksigen yang lebih besar?

“Ayo kita bereskan rumah. Jadi nanti pas Abah pulang, rumah sudah bersih.”

Ucapanku saat itu bermaksud positif. Aku tidak bermaksud apa-apa. Sungguh.

Usai Dhuhur, Paman Majid, Tante Atul, Paman Junai, Uwak Rosnani dan sepupuku yang paling dekat dengan Abah, Athan, tiba di Tanah Grogot dan langsung ke rumah sakit. Aku langsung menghampiri Paman Majid, adik Abah yang perawat.

“Paman mau ketemu dokternya Abah?”

“Iya, Yun. Tapi kita makan dulu, ya.”

Aku langsung mengajak mereka ke warung di sekitar dan meninggalkan mereka di sana untuk kembali lagi ke ICU. Sekitar satu jam kemudian, mereka naik ke ruang ICU dan kebetulan sekali Dokter Rifani baru tiba.

“Dokter, ini Paman Majid, adik Abah yang perawat,” aku memperkenalkan pamanku pada sang dokter.

Tanpa basa-basi lebih jauh, Dokter Rifani langsung membawa kami berdua masuk ke ICU. Dokter Rifani memasang hasil scan Abah di tempat yang sudah tersedia—tidak seperti tadi malam ketika beliau menjelaskannya padaku, kemudian memulai kembali penjelasannya seperti yang sudah dijelaskan malamnya padaku. Bedanya, lebih banyak istilah ilmiahnya. Dokter Rifani menjelaskannya dengan bahasa “manusia” kepadaku malam itu.

Kemudian, topik operasi kembali diangkat. Hanya saja, kali ini penjelasannya lebih detail lagi.

“Paru-paru kanan akan kita hancurkan, tapi tidak bisa dibersihkan di rumah sakit ini jadi nanti bakal saya bantu rujukkan ke rumah sakit di Balikpapan atau Surabaya. Hanya saja, kemungkinannya untuk berhasil sangat kecil, hanya sekitar 5-10%.”

Paman Majid dan Dokter Rifani menatapku yang hanya berdiri mematung dengan tangan yang dilipat.

“Yun, kamu sudah diserahi tanggung jawab sama Mama, kan? Gimana? Yang dewasa di sini kan Yuni.” Pamanku mulai berbicara, sementara aku hanya mengiya-iyakan saja.

“Lebih baik didiskusikan dulu dengan keluarga, Pak.”

Kamipun membubarkan diri. Aku langsung memberitahu Mama dan Mama juga menyerahkannya padaku. Keputusan apapun yang aku ambil, Mama akan ikut saja karena beliau juga sudah kalut, tidak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan selain terus berada di samping Abah.

Akupun mengajak keluarga berkumpul di depan ICU dan membuka “rapat” keluarga tersebut.

Dan semuanya juga menyetujui pilihan yang aku tawarkan.

Aku menarik napas dalam. Tubuhku lemas, tanganku agak sedikit gemetar. Bagaimanapun, keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang besar.

Akupun kembali masuk ke ICU untuk membuat surat pernyataan persetujuan operasi.

* * *

Sekitar pukul tiga, keluargaku pergi ke rumahku untuk beristirahat sebentar dan membersihkan tubuh. Esoknya, 20 April 2017, mereka harus langsung kembali ke Kalimantan Selatan karena pekerjaan yang mengikat. Aku dan Mama menerima itu, berterimakasih karena mereka semua tetap menyempatkan diri untuk ke Kalimantan Timur.

Tapi… belum juga keluargaku sempat beristirahat, belum juga aku sempat makan dengan tenang setelah bolak-balik dari laboratorium dan apotek, belum juga Mama duduk dengan sempurna di sampingku setelah Shalat Ashar, lagi-lagi pintu ICU menjeblak terbuka.

“Keluarga Pak Hipni! Sekarang ke dalam!”

Pemandangan kemarin terjadi lagi.

Rasanya aku menghampiri ranjang Abah tanpa tenaga, seperti zombie. Lima perawat dan satu dokter anastesi sibuk bergantian melakukan upaya CPR. Aku hanya bisa meremas kaki Abah yang sudah terlalu dingin itu.

Suasananya menegangkan. Perawat terus-menerus mengucapkan “masih tidak ada” atau “sekali lagi”. Aku tidak bisa mengingat semuanya. Rasanya seperti kilasan foto yang berubah-ubah dengan cepat. Yang aku ingat hanyalah Mama menyuruhku menelpon Paman Majid dan Fakhry untuk langsung datang. Begitu Paman Majid datang, beliau langsung berlari ke samping ranjang Abah, seolah-olah ingin melompat menggantikan perawat yang sedang berjuang menekan-nekan dada Abah. Aku hanya bisa berdiri mematung bersama adikku. Yang kulakukan hanyalah mengecek jam dinding. Sudah dua menit, tiga menit….  Kemudian mataku menatap layar monitor dengan garis lurus tersebut… Kemudian, aku tidak tahu lagi.

Setelah itu, aku melihat Dokter Rifani yang tahu-tahu muncul begitu saja berlari menghampiri ranjang Abah.

“Berapa menit?” Dokter Rifani seolah-olah mewakilkan pertanyaanku.

“Sepuluh menit, Dok.”

Aku mencelos. Mencelos dua kali ketika sadar alat yang ia bawa.

Dokter Rifani menatap mataku kemudian meletakkan alat kejut jantung yang ia bawa dan menyuruh perawat yang sedang melakukan CPR untuk turun. Beliau segera naik dan menggantikan perawat tersebut.

“Kita coba lagi.”

Aku memegang lengan adikku saat melihat Dokter Rifani menekan dada Abah, sangat, sangat dalam. I knew that CPR could cause ribs fracture and I was afraid he might cause it.

Tidak lama, Dokter Rifani turun dari ranjang Abah dengan peluh mengalir di dahinya, dan seorang perawat menggantikannya.

The-“Ngga-Ada-Dok”-statements had been said so many times, and in the end, the doctor nodded his head and looked straight to me. As if he knew that I (might be) was the strongest of them all.

Aku langsung memeluk pundak adikku dan berbisik di telinganya.

“Masih ada Mama dan aku. Ngga papa. Masih ada Mama dan aku.”

Menangis, adikku balas memelukku erat dan mengangguk.

I took my phone quietly from my satchel bag.

It was 16.27 and he’s finally gone.

Advertisements

Iya, gak papa. Ngomong aja.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s