Tiga Bulan Sudah: Those Scenes I Saw in Dramas, It Happened Right Before My Eyes.

Sudah banyak orang yang menunggu di depan ruang ICU. Sepertinya berita bahwa Abah masuk ICU sudah menyebar, termasuk di kalangan teman-teman Abah.

Aku berlari keluar dari lift dan memeluk Mama yang sudah kelihatan lusuh.

“Abah di mana?”

Mama langsung membawaku ke depan pintu ICU dan menunjukkan posisi ranjang Abah. Saat aku mengintip dari kaca ICU, Abah masih bergerak. Ia terus-menerus menggerakkan tubuhnya: ke kanan, ke kiri. Setidaknya ia masih bergerak. Ia masih sadar.

He is fine, right? He is going to be fine, right?

Sekitar pukul sepuluh malam, aku pulang ke rumah menggunakan motor milik tetanggaku. Mama menyuruhku untuk mandi dan membawa beberapa pakaian ke rumah sakit karena sepertinya kami tidak akan pulang hingga beberapa hari ke depan. I got anxious when my Mom said that because I knew very well that my Dad’s condition was… unstable. He was always been unstable since October last year. But I didn’t know that it was much… worse.

Hening menakutkan sudah tiba ketika aku kembali berkendara ke rumah sakit. Berkendara tengah malam di wilayah semi terpencil bukanlah ide yang bagus. Aku menelan ludah ketika menyadari bahwa kanan-kiriku adalah wilayah hutan sementara jalan raya benar-benar sepi tanpa penerangan.

Begitu sampai di depan ICU, Mama sudah menggelar selimut untuk dijadikan alas. Aku kembali mengintip melalui pintu kaca ICU dan melihat tubuh Abah yang bergeming. Mengingat waktunya, aku rasa Abah sudah tidur.

He really is going to be fine, right?

Sekitar pukul tiga dini hari aku terbangun dan mendapati Mama sudah tidak di sampingku. Aku langsung berdiri dan mengecek Abah kembali dari pintu kaca.

Something is wrong.

Aku melihat pergerakan dada Abah tidak normal. Naik-turun dengan drastis. Seolah-olah ia dengan berusaha menarik napas mati-matian.

“Gimana?”

Aku menoleh dan mendapati Mamaku berdiri di belakangku, masih mengenakan atasan mukenanya.

“Ada yang salah, Ma. Kenapa dada Abah naik-turun?”

Mama menyipitkan mata, dan disitulah kekuatan ibu-ibunya terlihat: Mama menggedor pintu kaca ICU untuk mendapat perhatian perawat yang tidak terlihat sosoknya.

“Mas! Itu suami saya kenapa?!”

Perawat yang kebetulan melintas langsung menghampiri kami dan membukakan pintu ICU. Mom practically stormed to the ICU and checked Dad’s condition.

“Kenapa napas bapak jadi begini?” Mama bertanya pada perawat dengan nada khawatir. Aku yang saat itu melihat kondisi Abah untuk pertama kalinya, shocked.

I was shocked.

Tabung oksigen yang beliau gunakan saat itu tiga kali—tidak, empat kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tabung yang kami gunakan di rumah. And his breath… it was shallow, forced. He can’t breathe.

Dan mataku mendarat di monitor yang biasa aku lihat ketika menonton drama dengan adegan di rumah sakit.

It was right in front of my eyes.

“Ini normal, Bu.”

Normal?! It is fucking normal? There is nothing normal about his shallow breathing!  

“Normal, mas?” pelan beliau bertanya.

“Iya, bu. Ibu silakan tunggu di luar ICU, ya.”

“Ngga, mas. Saya mau nungguin suami saya di sini. Saya mau ngajak suami saya dzikir. Dokter Fredi sudah mengizinkan saya. Yun, kamu keluar.”

Aku menatap Mama dengan pandangan tidak percaya.

“Sebentar.”

Aku kembali menatap layar monitor tersebut. Saat itu aku tidak tahu-menahu soal cara membaca layar monitor dengan angka-angka yang terus berubah itu. Yang aku tahu hanyalah garis yang menandakan bahwa jantung Abah masih berdetak. Dan jika garis acak-acakan itu sudah berubah menjadi garis lurus…mungkin aku harus “berterimakasih” pada drama-drama yang aku tonton.

Aku keluar dan duduk kembali di depan ICU. Sendirian, aku mulai berseluncur di dunia maya, mencari tahu soal penyakit brengsek yang menggerogoti paru-paru Abah. Baru dua minggu lalu aku menemukan jurnal soal terapi bagi penderita COPD. Belum sempat aku menunjukkannya pada beliau, segalanya sudah seperti ini.

Tahu-tahu saja, Mama keluar dari ICU.

“Telpon Fakhry, suruh pulang sekarang.”

“Sekarang?!”

“Iya.”

“Tapi dia lagi UTS…?”

“Tinggalkan UTS-nya. Kita gak tahu apa yang bakal terjadi. Suruh Fakhry pulang, pesankan tiket. Urusan UTS kamu aja yang bantu menguruskan.”

Aku bergeming, otakku berpikir cepat.

“Yuni bisa mesankan tiket sekarang, Fakhry bisa ke Juanda naik bis. Kemarin Fakhry ngomong UTS semuanya take home, tapi hari ini ada yang dikumpulkan jam 11. Itu bisa di-email-kan ke temannya, biar temannya yang nge-print terus tandatangan dipalsu. Sisa tugasnya bisa dikerjakan di sini. Jadi dia disuruh pulang ngebawa laptop aja. Nanti, Fakhry disuruh ngehubungin dosennya, jelaskan situasinya biar bisa nyusul UTS-nya setelah urusan di sini selesai.”

Mama mengangguk menyetujui penjelasanku kemudian beliau menyerahkan beberapa kartu kepadaku.

“Transferkan uang ke Fakhry. Sekiranya cukup. PIN sudah ada di kertas catatannya.”

Aku mengusap wajah kemudian mencari nomor ponsel adikku.

Aku mengulangi apa yang kujelaskan ke Mama. Tentu saja juga dibarengi jeritan “Sekarang?!” dari adikku.

Aku langsung turun dan mencari ATM. Sejumlah uang sudah ditransferkan ke rekening adikku. Dan thanks to a very melek teknologi father, kami berdua jadi tergerak untuk memanfaatkan fasilitas mobile banking, internet banking dan segala-galanya demi kemudahan. Adikku juga melakukan hal yang sama dengan membeli tiket ketika masih di dalam bis.

Ketika aku naik kembali ke ICU, Mama sudah duduk di depan ICU.

“Abah lagi dibersihkan.”

“Apanya?”

“Ganti ‘popok’, dilap-lap.”

Aku mengeluarkan “oh” kecil.

“Tante Tiani sama Paman Kaim hari ini ke Grogot.” Ujar Mama tiba-tiba.

“Hah?”

“Kita gak tau apa yang bakal terjadi. Jadi tadi Tante Tiani sama Paman Majid sudah dihubungi, Mama minta mereka datang.”

“Tante Tiani berangkat dari Pelaihari?”

“Iya.”

Holy cat. This must be super serious sampai memanggil keluarga paling jauh—adik-adik Abah—untuk datang.

Matahari terbit, para pengunjung—teman-teman Mama dan Abah—mulai berdatangan, termasuk tetangga dan anak buah Abah yang membantu mengantar Abah ke IGD hari Minggu lalu.

Sekitar pukul tujuh, aku dan Mama diminta masuk ke dalam ICU.

“Bu, bapak nanti mau dipasangi ventilator ya.” Ujar salah satu dokter jaga.

Yang ada dipikiranku adalah “ventilasi” dan “aliran udara” ketika mendengar itu.

“Alat bantu pernapasan?” tanyaku.

“Iya. Bapak gak kuat make tabung biasa. Jadi harus make ventilator, biar napasnya bisa normal lagi.”

That is cool, pikirku tolol.

“Oke.” Aku dan Mama mengiyakan.

Mama kembali duduk di samping ranjang Abah, sementara aku keluar untuk “memonitor” adikku dan agar bisa terus berhubungan dengan Tante Tiani.

Sebuah notifikasi masuk ke ponselku dan berhasil membuatku menghela napas panjang: my lovely brother memesan tiket untuk penerbangan 19 April 2017 alih-alih untuk penerbangan hari itu, 18 April 2017.

“Kamu! Kamu salah beli tiket!” jeritku dari seberang telepon.

“Hah? Salah apanya?” adikku bertanya kebingungan.

“Hari ini 18 April!”

“Eh? Terus gimana?”

“Aku yang ngurus. Kamu harus tetap ke Juanda sekarang.”

Aku menutup telepon dan langsung mengecek FAQ dan persyaratan untuk berganti jadwal penerbangan. Aku menyumpah setelah mengecek jadwal terbang hari itu karena penerbangan yang kuinginkan sudah kurang dari empat jam, yang artinya tidak bisa melakukan easy reschedule.

Akupun terpaksa menelpon kantor maskapai yang digunakan adikku. Setelah mengikuti semua prosedur, jadwal penerbangan adikku bisa diganti walau lebih lambat satu jam karena jadwal penerbangan yang aku inginkan sudah penuh.

Alhamdulillah.

Selama menunggu di depan ICU, aku banyak membaca soal COPD. Mendadak saja otakku bekerja lebih cepat, mungkin karena dalam kondisi darurat. Aku saja tidak pernah se-invested itu dalam membaca jurnal linguistik. Tapi membaca jurnal kedokteran soal COPD malah bisa memahaminya. Pfft.

Siang hari, Mama keluar dari ruangan ICU, terlihat letih dengan mata yang agak sembab.

“Abah lagi ditindak. Lagi dipasang ventilator. Jadi Mama disuruh keluar.”

Tapi baru saja Mama keluar, seorang perawat tergesa-gesa membuka pintu ICU.

“Keluarga Bapak Hipni!”

Aku dan Mama langsung berlari masuk ke ICU.

Everything from the dramas, and that was it: the holy CPR.

Is that ambu bag?! Aku menjerit di dalam otakku.

Abah dikelilingi oleh sekitar enam perawat. Holy cat, I still remember?

Salah seorangnya bersimpuh di ranjang Abah dengan kedua tangan yang menekan dada Abah berkali-kali, seorang lainnya terus menerus menyuntikkan cairan ke tubuh Abah.

Tapi aku hanya bisa mematung menatap layar monitor dengan garis lurus tersebut.

IS HE GOING TO DIE?!

“Mbak! Pegang tangan bapaknya!”

Aku tersentak dan melompat ke samping Mama yang sudah menangis. Aku memegang tangan Mama dan mengecup dahi Abah dan berbisik ke telinganya.

You have to be alive. You have to be alive. You haven’t seen me graduate yet. Fakhry just started his college. Bah, you have to be alive.

“Berapa menit, mas?” Aku mendongak menatap perawat yang ada di sampingku.

“Sekitar tiga menit, mbak.”

Abah, ayo, Bah. Baru tiga menit. Masih ada waktu sebelum kau benar-benar mengkhianati kami. Bah, ayo.

“Sudah balik!”

Aku mengusap air mataku dan menatap layar monitor kembali. Garis lurus sudah kembali berubah menjadi garis acak-acakan dan angka-angka di monitor kembali bergerak.

Aku menyodorkan cokelat kepada Mama.

“Ma, makan ini. Mama lemes.”

Tapi semuanya hanyalah awal dari segalanya. Sekitar pukul 16.30, kami kembali dipanggil perawat, kembali memegangi tangan Abah, kembali mengajaknya untuk mendengar nama-Nya, kembali menyemangatinya—Dad, you have to see me become someone.

Tante Tiani, adik Abah, datang setelah Abah dipasang ventilator dan tangis beliau pecah melihat kondisi Abah. Aku yang tidak sanggup melihat pemandangan tersebut langsung keluar dari ICU untuk menemani Paman Kaim dan tamu-tamu lainnya yang hanya bisa mengintip melalui kaca jendela ICU.

“Fakhry gimana, Yun?” tanya salah seorang teman Mama, yang baru kusadari bahwa itu adalah guruku sendiri.

“Fakhry masih di jalan, Bu. Tadi siang Om Samani, teman Abah, sudah berangkat ke Penajam buat ngejemput.”

Satu per satu, mereka menepuk pundakku.

Aku mengusap wajahku. Aku yakin aku lelah. Tapi disaat bersamaan, aku juga tidak merasakan apapun. Rasanya seperti mati rasa.

Sekitar pukul sembilan malam, sesosok pria dengan pakaian hitam-hitam muncul dari tangga darurat dan aku langsung berlari memeluknya.

“Sudah shalat Maghrib sama Isya?” tanyaku cepat.

“Belum. Kenapa?”

“Kamu mau ngeliat Abah sekarang atau shalat dulu?”

“Kenapa emangnya?”

Aku melepaskan pelukanku dan berpikir.

“Kamu ngeliat Abah sebentar ya. Lepas tasnya, terus makan ini dulu.”

Adikku langsung melepaskan tas dan menyerahkannya ke salah satu tetanggaku dan menerima sodoran cokelat dariku.

“Kenapa emangnya?”

“Kamu siap, ya.”

Adikku mengangguk.

Bismillah, ayo ngeliat Abah.”

Aku menuntun adikku memasuki ICU yang sudah tidak pernah dikunci lagi. Begitu adikku memasuki ICU, tamu Mama langsung beranjak keluar.

Pelan, adikku menghampiri ranjang Abah dan tangisnya pecah.

For the first time in my life, I saw my brother crying as a big boy. I saw him crying very often as a little child and Mom always says that my brother is the one with a soft heart. But as he grew up, he stopped crying every time, any time.

But he was crying.

“Abah… Abah, aku baru sebentar sama Abah…”

Melihat itu, tangisku dan Mama akhirnya pecah kembali.

Delapan belas tahun. Abah baru bersama adikku selama delapan belas tahun. Umur yang sangat tanggung. Baru meninggalkan masa kecil, tapi masih terlalu muda untuk disebut dewasa. Belum ditambah dengan betapa seringnya Abah berada di luar kota. Sebulan di luar kota, tiga hari di rumah. Satu tahun di luar kota, sebulan di rumah.

Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya.

Aku memegang kaki Abahku yang dingin, entah karena AC yang kelewat dingin atau karena ia memang dingin. Aku sudah mulai belajar menerima angka-angka yang muncul di layar monitor, sudah mulai memahami apa maksudnya hingga aku kadang suka terkejut sendiri.

Tanpa mandi, tanpa berganti baju, aku dan adikku tidur di depan ICU setelah memastikan Paman Majid dan saudara Abah yang lain akan berangkat besok pagi ke Tanah Grogot.

Advertisements

One thought on “Tiga Bulan Sudah: Those Scenes I Saw in Dramas, It Happened Right Before My Eyes.

Iya, gak papa. Ngomong aja.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s