Tiga Bulan Sudah: I Thought Everything Would Be Okay

Tiga bulan sudah sejak telepon dini hari dari Mama yang memintaku pulang.

Saat itu aku tidak menyangka bahwa kepulanganku tidak akan hanya sekedar satu-dua hari saja, tapi berlanjut hingga tiga bulan kemudian.

Masih segar betul dalam memoriku: sekitar pukul 04.05 WIB Mama menelponku, memberitahuku bahwa Abah masuk ICU. Aku yang saat itu masih setengah sadar karena baru tidur sekitar dua jam setelah lembur, malah kembali menutup mata. Adzan Subuh berkumandang, Mama kembali menelponku bahwa beliau tidak bisa mengirimi uang untuk membeli tiket pesawat dan aku harus mencari biaya sendiri.

Seketika mataku terbuka, walau tidak segar-segar amat. This is serious¸pikirku setelah sadar. Migrain masih bisa kurasakan, akupun langsung mengecek harga tiket dan mencelos melihat harganya. Aku menelan ledah karena memikirkan suatu hal. Pelan, aku mengetik dan mengirimi pesan ke salah satu teman dekatku untuk meminjam sejumlah uang. I swallowed my pride not to borrow money from my friends because it was urgent.

Setelah itu, aku langsung mengecek saldo rekeningku, saldo Go-Pay, juga sejumlah uang yang ada di dalam dompet. Cukup. Aku bisa pulang dengan uang sejumlah itu.

You know what? The perk of living in a remote area is that you’d never have enough money to go to that place unless you do really have money or it’d never be “safe” because you don’t know what would happen on the way. Jadi, kawan. Menabunglah. For godness’s sake, tabungan itu sangat penting khususnya untuk urusan darurat sepertiku ini.

Urusan finansial beres, aku menelpon adikku untuk meminta tolong mengantarku ke Arjosari.

“Lho, kenapa?”

“Abah masuk rumah sakit. Mama minta dikawani, nah. Kata Mama kada nyaman kadada keluarga yang mengawani (Mama minta ditemani. Mama ngga enak ngga ada keluarga yang menemani). Masa tetangga terus?” Alasanku saat itu. Padahal Mama memberitahuku untuk jangan member itahu adikku dulu karena kondisi Abah juga belum jelas mungkin.

Setelah itu, mataku menyapu pemandangan kamarku.

Hari itu tanggal 17 April 2017, sehari sebelum tenggang waktu pembayaran kos. Aku sudah memberitahu kedua orangtuaku sejak dua bulan lalu bahwa aku mantap untuk pindah kos ke kos yang lebih murah karena, well, Abah sakit-sakitan so I decided to start living on my own, with my own money. Mereka berdua menerima “kengototanku”, menerima kenyataan bahwa kondisi mereka berdua sudah tidak seperti dulu lagi dan aku rasa it’s time to act like a real first child.

Kemudian, itulah masalahnya.

Seharusnya hari itu aku memindahkan semua sisa barangku ke kos baru. Tapi karena panggilan dadakan pulang, subuh itu aku langsung memasukkan sisa barangku ke dalam kardus yang sudah aku siapkan tanpa ditata sedemikian rupa seperti yang sudah aku rencanakan. Semua barang aku masukkan ke kardus begitu saja.

Sekitar pukul lima pagi, seorang teman kos yang baru saja dari Banyuwangi mengetuk kamarku.

“Yun? Mau pindahan pagi ini?”

“Ngga, Mbak. Tapi aku harus ngeberesin hari ini soalnya jam tujuh aku sudah harus di Arjosari. Nanti aku mau minta tolong temenku buat mindahin ini ke kos baru.”

“Lho, kenapa?”

“Abah masuk ICU. Mama nyuruh aku pulang sekarang.”

Teman kosku yang masih mengenakan pakaian lengkap itu kembali ke kamarnya untuk kemudian kembali ke kamarku lagi. Jilbab yang menutupi kepalanya sudah dilepas dan lengan bajunya sudah ia gulung hingga ke siku.

“Sini aku bantuin, Yun.”

Aku yang saat itu sedang menempelkan isolasi ke salah satu kardus menghentikan kegiatanku dan mendongak menatapnya.

“Mbak, bukannya masih capek abis dari Banyuwangi?”

“Udah, gak papa. Aku bisa istirahat nanti. Kamu yang kudu cepet, nih.”

Saat itu aku rasanya ingin menangis penuh terimakasih. I’ve always declared myself as three-days-socializing-and-three-months-distance-myself-away human because interacting with other humans make me tired. Walau begitu, aku juga selalu berusaha menjaga hubunganku dengan orang-orang yang kukenal. Saat itulah aku merasa betapa bergunanya untuk memiliki orang-orang baik di sekitarmu. You need other people in your life, humans. Di dalam Islam, ada istilah “hablum minnanas” atau “menjaga hubungan dengan sesama manusia” and I admit I ain’t that human being who applies that lesson very well.

Maka kami berdua, subuh-subuh, ketika orang-orang di kos masih ngorok, mengurusi barang-barangku yang jumlah menggunung. Tidak lama, teman dekatku membalas pesanku dan akupun langsung menelponnya.

“Okay, straight to the point dan ini mungkin bakal kurang ajar banget but, I need money.”

“Hah?”

“Sekitar satu juta?”

“Kenapa, Yun?”

“Abah masuk ICU dan aku harus pulang sekarang.”

“SEKARANG?”

“Yup.”

“Oke. Ntar aku kirimin, ya. Sekitar jam delapan gak papa?”

“Iya, gak papa. Nanti aku bisa ngorder tiket pas lagi di bis.”

Aku menutup telepon dengan tangan gemetar. Kepalaku serasa menjerit. I can’t believe I borrowed money. MONEY. I BORROWED MONEY. I like money but it’s a taboo for me to borrow the damn money from others. BUT I BORROWED MONEY.

“Sudah, Yun?” tanya teman kosku.

“Sudah, Mbak. Urusan uang beres. Ntar aku beli pas lagi di jalan aja lewat hape.”

“Bisa?”

“Bisa, Mbak. Aku punya aplikasi buat beli tiket pesawat di hape.”

Sekitar pukul setengah tujuh adikku datang menjemput. Aku sudah menyerahkan kunci kamar kosku ke sang teman dan menyerahkan semua urusan kamarku padanya, termasuk mengembalikan kunci kamar kosku ke pemilik kos.

Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah pamit dengan benar setiap kali meninggalkan suatu tempat tinggal.

Aku beruntung. Begitu sampai gerbang depan Terminal Arjosari, ada bis yang baru saja keluar dan siap berangkat. Kucium singkat pipinya dan kupegang pundaknya.

“Hati-hati di Malang. Kamu sendirian.”

“Iya, Yun.”

Aku melambaikan tangan ke adikku begitu kakiku menginjak tangga bis.

Rasanya semua berjalan sangat singkat. Tahu-tahu saja aku sudah menelpon teman dekatku menyoal urusan kos, tahu-tahu saja aku sudah sampai Terminal Bungurasih, langsung berlari ke Bis Damri yang menuju Bandara Juanda. Begitu sampai bandara, aku langsung check in, selesai check in aku tidak langsung ke ruang tunggu tapi ke Circle K untuk membeli roti because for goodness’s sake, I only grabbed an onigiri in Indomaret on my way to Arjosari and it didn’t satisfy my hunger at all.

It was tiring. But I didn’t realize it before I got to the hospital.

Sekitar pukul dua siang aku mendarat di Balikpapan. Dan entah apa yang menguasai isi kepalaku saat itu, aku malah mampir di KFC dan membeli makan. Hanya setengah jam saja seingatku, hanya untuk sekedar untuk makan sedikit dan mengisi baterai ponsel yang sudah mau habis sementara Mama meneleponku hampir tiap satu jam sekali.

Pukul tiga sore aku ke Pelabuhan Kampung Baru dan sampai di Terminal Penajam sekitar pukul empat. Selama di perahu, aku berbincang dengan beberapa penumpang untuk mencari tahu kendaraan apa yang bisa kutumpangi ke Tanah Grogot agar aku bisa sampai lebih cepat.

And this is the moment I regretted the most.

Aku meminta tolong ojek yang mengantarku untuk mencarikan “taksi lari” atau minibus yang “melarikan diri” dari terminal. Disebut “taksi lari” karena mereka adalah kendaraan yang tidak sabar menunggu antrian hingga penuh penumpang di terminal sehingga mereka memilih berjalan terlebih dahulu untuk mencari penumpang sepanjang perjalanan.

Sayangnya, kami sudah kehabisan taksi lari tersebut karena sudah lewat pukul tiga hingga akhirnya aku memutuskan untuk meminta diantar kembali ke terminal.

You know what, people? You have to be brave, to be strong even though you are a woman.

Saat aku sampai terminal, sebenarnya ada minibus yang hendak berangkat. Tapi ketika aku hendak naik, supir-supir lain memutuskan untuk “berbagi penumpang”.

“Mbak ini masuk taksi satunya aja.”

“Kamu jalan aja duluan.”

Aku yang baru sampai terminal, kebingungan, bengong ketika minibus yang masih ada bangku kosongnya itu meninggalkan terminal.

Yang aku sesalkan adalah: kenapa aku menurut saja dan tidak melawan dengan mengatakan bahwa ayahku sudah masuk ICU dan aku harus menemuinya secepat yang aku bisa?

I was so stupid and I still blame myself for that. If I were to be arrived two hours earlier in the hospital, I might still get the chance to meet my father who was still able to look at me in my eyes.

But I didn’t do that.

And I arrived at the hospital around 9.20 PM and I couldn’t get in to the ICU anymore.

Advertisements

3 thoughts on “Tiga Bulan Sudah: I Thought Everything Would Be Okay

  1. Thank you for sharing Yun. I believe it is really hard for you but you survive. I wish you all the good luck so you could graduate soon. For God sake Yun, you gotta graduate soonest so it won’t weigh you anymore. Keep being strong, Yun! Keep being cheerful like always! Love you, Yun <3

Iya, gak papa. Ngomong aja.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s