Tiga Bulan Sudah

Ketika aku mengecek tanggal hari ini, aku mendapati hal yang menarik: tanggal dan hari di bulan Juli ini benar-benar sama persis seperti bulan April lalu. Tanggal 16 di hari Minggu, tanggal 17 di hari Senin, dan seterusnya…

Selama tiga bulan ini aku terus-menerus berpikir: sanggupkah aku menuliskan apa yang terjadi tiga bulan lalu? Sanggupkah aku memutar ulang memori tiga hari paling menegangkan dalam hidupku?

Kemudian aku terkekeh sendiri. Aku sudah berencana menuliskannya sejak seminggu setelah kejadian tersebut, sebulan, dua bulan, hingga kemudian aku kembali ke Malang lagi tiga bulan kemudian.

Kalau aku mengatakan “rasanya semua itu seperti mimpi”, rasanya terdengar terlalu klise. Tapi, semuanya memang terasa seperti mimpi. Masih ada saat-saat di mana aku berpikir seperti biasanya: “Ah, aku harus menelpon Abah dan menceritakan semuanya nanti.” Hingga kemudian kenyataan menghantamku dan aku harus tertawa pedih sendiri.

Girl, you forgot your Dad is dead?

Aku bukan hanya kehilangan sosok ayah. Kehilangan lain yang paling bisa aku rasakan adalah aku kehilangan teman diskusi yang luar biasa, seorang guru yang pintarnya membuat geleng kepala. Walau aku selalu bisa menceritakan apa yang aku ketahui kepada orang-orang di sekitarku, aku masih belum menemukan orang yang bisa memberikan respon seperti Abah. Tidak ada orang seperti Abah yang bakal ngebela-belain menelpon hanya untuk memberitahuku bahwa Dahlan Iskan sedang muncul di televisi, padahal aku tidak punya televisi di kos….

Satu minggu, dua minggu… banyak diskusi yang bergulir di antaraku dan keluarga, dengan Mama dan adikku, Fakhry. Mulai dari masa depanku, kuliah Fakhry, apa yang harus kita lakukan di Kaltim, apakah sebaiknya kita pindah ke Kalsel, bahkan ada yang bertanya-tanya apakah Mama akan kembali ke Jawa setelah ini (yang tentunya dijawab “Tidak!” dengan tegas oleh Mama).

Rasanya seperti kehilangan induk.

Kami pindah ke Kaltim sekitar Maret 2000. Ceritanya sih, ceritanya… pasca kerusuhan di Banjarmasin tahun 1997 dan reformasi 1998, proyek di Kalimantan Selatan banyak yang macet. Hingga Abah akhirnya terbang ke Kalimantan Timur, ke Berau, Samarinda, Sangatta, dan berbagai tempat lainnya untuk mencari pekerjaan. Karena proyek beliau saat itu banyak di Kaltim dan seorang teman juga baru membangun perusahaan, maka diboyonglah kami ke Kaltim.

Lucunya, sekitar tahun 2009-2010, Abah kembali bekerja di Kalsel, tepatnya di Tanjung, Kabupaten Tabalong.

Kalau mengingat masa-masa itu, rasanya pengen nonjok-nonjok dinding. Mungkin karena aku dan Fakhry masih bersekolah, beliau tidak mau repot-repot untuk memboyong kami lagi. Apalagi Mama juga mulai bekerja lagi. Maka Abah mengalah, bolak-balik Kaltim-Kalsel setiap satu-dua minggu sekali. Kadang satu bulan sekali. Jadi, kami memang sudah terbiasa tidak melihat Abah setiap hari.

It was such an irony: ketika Abah akhirnya istirahat total di rumah sejak Oktober 2016, ternyata itu adalah masa-masa “persiapan” sebelum menghadapi kematian.

Ada saat-saat di mana aku merasa sangat marah setiap kali mengingat betapa teganya Abah meninggalkan kami. Salah satu adik Abah bercerita bahwa Abah sebenarnya hendak memboyong kami kembali ke Kalsel. Hanya saja karena satu-dua hal, maka rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena tanah yang sudah beliau beli dijual lagi. Hingga kematian beliau, rencana itu tidak pernah terlaksana.

Aku merasa ini pernyataan yang kejam, tapi percayalah: East Kalimantan doesn’t feel like home anymore without my Dad.

Tiga bulan lalu, ketika aku bertamu ke Asrama Paser, Mama menelponku dengan panik bahwa Abah kambuh kembali. Saat itu aku tidak tahu bahwa “kambuh” yang dimaksud di sini bukanlah kambuh seperti biasanya. Sekedar susah bernapas, diberi bantuan oksigen, kemudian akan normal kembali. Saat itu aku tidak tahu bahwa Abah sebenarnya dilarikan ke IGD.

Saat itu aku masih tidak mengerti bahwa itu akan menjadi hal yang memulai dan mengakhiri segalanya.

PS: Tulisan ini kacau sekali. Maklumlah, aku sudah tidak menulis selama berbulan-bulan. Rasanya sungguh sulit menulis dengan kondisi pikiran kalut setiap kali mulai bersemedi dan berpikir.

Advertisements

2 thoughts on “Tiga Bulan Sudah

  1. Yun, reading this breaks my heart to pieces, and I can’t imagine how bad was this for you (and thinking that gives me more hearbreak). I know how you look up to your dad (trust me now i’m tearing up while reading and writing this) and how you enjoy your banter with him. I wish the best for your dad and for you of course. I believe he is proud of how you have become; grown up, mature, smart and resourceful.
    what breaks my heart more is how you always bottle up your feelings to yourself and tried to cover up how you really feel by smiling and laughing too much. but if it makes you actually feel better, then do that, and keep writing if it frees your mind.
    I know we don’t talk much lately, but you can always text me or call me to just tell me stories, seriously, I’ll listen.
    I hope your heart heals fast.

Iya, gak papa. Ngomong aja.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s