Akhir Pekan Edisi Wanita Perkasa

Lokasi: Desa Bangsring & Pulau Tabuhan, Banyuwangi. Ditulis Senin, 27 Oktober 2014.

Sekarang pukul 10.10 PM dan sebenarnya lelahku belum benar-benar hilang. Walau begitu, aku ‘keluyuran’ di lokasi demonstrasi jalur satu arah hari ini sembari mengambil foto dan berbincang dengan polisi serta beberapa warga. Aku bukan jurnalis, tapi entah mengapa aku pikir lagakku bahkan jauh lebih berani daripada mereka yang katanya tergabung di persma. Entahlah, kesal saja melihat anak-anak persma yang ragu hendak melakukan wawancara dan mengambil gambar di lokasi demonstrasi. Wartawan kok malu-malu.

Oke, bukan itu yang hendak kuceritakan. Tapi aku hendak kembali mengingat pengalaman selama dua hari dua malam di kota orang. Itulah mengapa aku katakan bahwa lelahku belum sepenuhnya hilang. Otot perutku masih seperti agak tertarik seolah-olah aku baru saja melakukan ratusan sit-ups padahal yang kulakukan hanyalah ngambang di atas laut tanpa bisa bergerak kemana-mana.

Mungkin bisa dikatakan hal yang kulakukan bersama lima orang lainnya adalah aktifitas ngebolang. Atau kita bisa menggunakan istilah lain yang lebih keren: backpacker-an. Mengingat kami berenam semua wanita cewe, perjalanan kami ke Banyuwangi terasa agak nekat. Apalagi kami tidak memiliki tempat menginap.

Pergi ke Banyuwangi sebenarnya tidak masuk rencana. Sekitar hari Minggu (19/10) aku dikirimi pesan oleh Kak Tika yang mengajakku untuk pergi ke Banyuwangi. Aku hanya berpikir sebentar (baca: memikirkan jumlah uang yang tersisa) kemudian aku langsung menerima ajakan tersebut. Apalagi dengan ‘iming-iming’ naik kereta api, aku ngiler… (iya, aku memang anak Kalimantan).

Jumat sore (24/10) kami berangkat. Bahkan di hari keberangkatan, aku masih saja sibuk kesana-kemari. Aku juga heran mengapa selalu seperti ini. Aku baru bisa membereskan barang-barangku sekitar setengah jam sebelum memacu motor ke stasiun. Ah, ya. Kami menitipkan motor di stasiun, kemudian naik angkot menuju Terminal Arjosari.

Aku lelah, tentu saja aku lelah. Bayangkan saja, sob. Aku bangun sejak sebelum subuh dan bekerja seharian, kemudian sorenya langsung pergi ke luar kota tanpa sempat beristirahat. Rasa lelah itu dibumbui dengan masalah yang kami temui saat di terminal.

Entah bagaimana bus kami ditukar. Penawaran awal adalah kami membayar Rp85.000 untuk bus eksekutif, tapi yang kami dapatkan malah bus yang—boro-boro menggunakan AC—jendelanya saja sulit dibuka. Mbak Nurin yang perkasa(?) pun langsung menemui satpam dan meminta bantuan. Setelah negosiasi dengan orang terminal, akhirnya kami mengalah dan menaiki bus tersebut. Ujar mereka, kami ‘beruntung’ bisa mendapatkan bus dengan harga sejumlah itu karena normalnya bisa hingga lebih dari 100k untuk pergi ke Bali (iya, katanya mau berhenti di Banyuwangi/Bali, harganya sama).

Permasalahan belum selesai. Begitu kami memasuki bus, we found out that we were the only girls. Kami mengambil lokasi tempat duduk di belakang, walau sebenarnya lokasi kami ditengah. Hingga kemudian, kondisi diperparah lagi dengan masuknya gerombolan pria yang lehernya minta ditusuk dengan mata bolpoin. Begitu mereka masuk, kami semua langsung mengambil senjata masing-masing (baca: bolpoin, gunting dan cutter). Aku bahkan sudah memikirkan bagian-bagian tubuh mana yang perlu aku serang jika mereka berani mengganggu kami (baca: leher, tulang kering dan selangkangan).

Delapan jam berada di bus benar-benar membuat senewen. Senewen karena pria-pria douche-bags tersebut terus-menerus merokok, kept talking about us, even one of them couldn’t stop staring at us. We even had to change the way we talk into English so they wouldn’t understand. Selain melakukan hal-hal tersebut, mereka juga tidak bisa berhenti menanyai kami. I even heard someone said a harassment comment toward one of us. Mungkin mereka tidak pernah melihat makhluk hawa, pikirku.

Malam harinya, aku rasa kekesalanku memuncak. Kak Tika dan Mbak Nurin sedang asik bermain UNO ketika salah satu dari mereka dengan berani menghampiri kami kemudian berjongkok didepan kami.

“Mbak, ikutan dong. Masa kita-kita ga diajakin main…”

Emosiku mengambil alih, padahal saat itu aku sedang setengah tertidur.

“Mas, bisa ga usah ngerusuh? Dari tadi ga bisa diam. Ngeganggu tau, ga? Balik sana ke kursi mas sendiri! Urus urusanmu sendiri!”

Aku sadar sepenuhnya nada suaraku berubah, bahkan tidak ada jejak akan suara imut-imut yang biasanya aku gunakan ketika bersama orang yang lebih dewasa. Aku mengatakannya dengan nada tinggi yang tegas dan mereka semua langsung terdiam.

“Anjing berbulu domba,” komentar salah satu dari mereka dengan pelan.

Untung saja aku tidak menyambar dan langsung mengatakan “yang benar itu serigala berbulu domba!”. Selain itu, saat itu kakiku sudah kelewat gemetar setelah menegur pria yang jelas-jelas tubuhnya jauh lebih besar, walau otaknya terlihat tidak beres.

Begitu mereka semua terdiam, teman-teman melihatku dengan tampang penuh terimakasih. Aku bahkan menerima tweet seperti ini dari Kak Tika:

bloog (1)Yaelah nape harus cewek yang ngomong

Kami sampai di Pelabuhan Ketapang sekitar pukul dua pagi, sesuai dengan perkiraan. Kami langsung berjalan kaki ke Stasiun Banyuwangi Baru untuk mencari lokasi beristirahat. Apalah daya begitu kami sampai sana, ada orang stasiun yang memberi tahu bahwa sudah tidak diperbolehkan lagi tidur di stasiun. Mungkin bisa divisualisasikan how our jaws were dropped. Padahal kami hanya bisa berpikir akan satu tempat ini untuk beristirahat. Orang tersebut memberitahu kami bahwa mungkin kami bisa beristirahat di terminal bus yang jauhnya sekitar dua kilometer. Enggan berjalan jauh, kami memutar otak. Pandangan kami tertumpu pada sebuah warung yang sudah tutup dengan tempat duduknya. Kami bergegas ke warung tersebut dan memutuskan untuk beristirahat disana hingga subuh tiba. Tapi tak lama kemudian ada sebuah angkot yang lewat (bayangkan, angkot pada pukul setengah tiga pagi!). Setelah itu, tanpa babibu, kami langsung naik angkot dan pergi ke terminal.

Begitu sampai ke terminal, kami langsung ngacir ke mushalla yang ada disana. Kami melepaskan tas punggung yang sudah membebani pundak selama beberapa waktu. Maksud kata hendak bergantian tidur, tapi rupanya wanita-wanita ini sudah kelewat lelah. Akhirnya kami semua tertidur hingga subuh tiba.

Paginya kami naik angkot menuju lokasi tujuan, sebuah desa bernama Bangsring dimana ada yang menyediakan jasa penyeberangan ke Pulau Tabuhan menggunakan perahu. Tidak, kami tidak diantar hingga ke desanya. Kami berhenti didepan jalan masuk desa dan berjalan kaki hingga ke mencapai pantai. Disaat berjalan kaki diantara perkebunan desa itulah aku benar-benar merasa bahwa kami memang sedang ngebolang. Karena perjalanan yang cukup jauh (aku rasa sekitar dua kilometer), kami berjalan sembari melempar joke. Mulai dari joke tentang mengambil foto pre-wedding di kebun cabe sembari mengulek sambal bersama atau joke tentang pengeboran minyak ditengah laut dengan memanggil Inul (judulnya ‘Inul, Nasibmu Kini’). Joke yang jika diingat kembali akan membuat diriku terbahak.

adek kudu

Adek-adek kudu jalan kaki lagi menuju pantai

Kami sampai di Bangsring melewati waktu janji yang seharusnya pukul tujuh pagi. Begitu sampai pantai, kami langsung memberitahu kedatangan kami pada Mas Pak Wawan dan beliau langsung membawakan pelampung juga alat snorkeling. Perahu sudah siap dan kami langsung melompat naik. Hap! Perjalanan dari Bangsring menuju Tabuhan memakan waktu sekitar setengah jam. Airnya… AIRNYA CANTIK BANGET BIRU BANGET AAARGH AKU NORAK. Oh, halo. Aku tinggal di dekat laut—Tanah Grogot itu dipinggir laut. Bukan satu dua kali aku melewati lautan, tapi tetap saja aku selalu heboh jika bertemu laut.

tabhuan

Jaw dropped.

Pemandangan itu jauh lebih cantik jika dilihat secara langsung. Satu-satunya hal yang melintas dipikiranku begitu laut hanya satu: nyebur. Padahal sudah jelas aku tidak bisa berenang, apalagi menyelam. Karena itulah aku sempat mempertimbangkan dengan sangat untuk ikut snorkeling. Walau pada akhirnya…

bloog (2)

Herannya, walau lokasi kami ditengah laut, sinyal ponsel benar-benar bagus. Aku memang mendengar akan Banyuwangi yang merupakan kota digital, tapi aku tidak tahu apakah itu memang berpengaruh. Sinyal benar-benar penuh dan itulah mengapa aku terus ngalay didunia maya.

Kami ber-snorkeling di Tabuhan selama sekitar dua jam. Karena aku tidak bisa berenang, aku terus-menerus meminta bantuan mas-mas yang menjadi pemandu kami untuk memegangiku. Rasanya mau tertawa setiap ingat bagaimana aku hanya bisa mengambang dengan bantuan pelampung tanpa bisa bergerak. Aku sudah berusaha menggerakkan tangan dan kakiku. Tapi bukannya bergerak, aku malah terbawa arus ombak dan semakin ke tengah laut.

IMG_0583

Itu bukan saya featuring mas-mas pemandu

Sayangnya, pemandangan bawah laut di sekitar Tabuhan tidak terlalu cantik. Aku memang melihat ikan-ikan kecil berwarna biru-ungu yang cantik sekali, kemudian teripang dan bintang laut (“Dibawah ada Patrick! Dibawah ada Patrick!”). Tapi sangat sedikit. Entah karena kami hanya ber-snorkeling di bagian dangkal (hanya sekitar dua meter), atau memang pemandangannya hanya ‘seperti itu’.

Setelah puas ber-snorkeling di Tabuhan (dan naik ke darat dengan susah payah—tubuh kami rasanya seperti menjadi berkilo-kilogram lebih berat karena lama berenang), kami kembali ke Bangsring. Kak Meli yang sepertinya tidak puas hanya ber-snorkeling di Tabuhan memutuskan untuk kembali melakukannya begitu sampai Bangsring. Ia bahkan sudah memasang kacamata renang sejak di perahu.

IMG_0620

Aku memutuskan untuk beristirahat begitu sampai pantai. Melihat arus ombak di pantai yang terlihat besar, aku tidak berani ikut snorkeling. Aku punya pengalaman terbawa arus ombak ketika di Pantai Goa Cina dan itu agak-agak membuatku berpikir seribu kali untuk mencoba bercengkrama dengan ombak yang besar (walau sebenarnya aku tidak pernah kapok bermain dengan ombak). Selama Kak Meli, Kak Tika, Mbak Iris dan Mbak Ella kembali ber-snorkeling dipandu oleh Pak Wawan, aku dan Mbak Nurin beristirahat dan membersihkan diri bergantian.

Tapi rupanya ada sedikit rasa menyesal terbersit karena tidak ikut snorkeling di Bangsring. Begitu mereka kembali dari ber-snorkeling­, rasanya hal-hal yang bisa mereka ucapkan hanyalah:

“Kamu menyesal ga ikut snorkeling disini!”

“Lebih bagus disini daripada Tabuhan.”

“Kamu tahu iklan RCTI yang lama? Ya, itu!”

“Subhanallah, Yuuuun! Tadi itu baguus bangeeet!”

*ngubur mereka berempat dibawah pasir pantai*

Setelah mereka puas mengungkapkan kekaguman mereka akan pemandangan bawah laut Bangsring, mereka semua membersihkan diri dan kemudian beristirahat. Kami berenam tertidur di tempat teduh dari bambu yang seperti gazebo (aku tidak tahu namanya). Sore harinya, kami memutuskan untuk kembali ke terminal dan tidur disana lagi.

Belum sempat kami berangkat, kami mendapatkan tawaran untuk beristirahat di rumah para pekerja Pak Wawan. Entah mengapa aku merasa bahwa mereka merasa kasihan dengan enam ekor wanita yang datang jauh-jauh dari Malang tapi tidak memiliki tempat menginap. Mereka bahkan mengatakan bahwa ketika mahasiswa UB yang datang untuk KKN/KKL disana menginap ditempat mereka, juga bahwa yang menanam tanaman-tanaman di pinggir pantai adalah mahasiswa FPIK Brawijaya. Tapi setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk tetap berpegang pada rencana semula. Para pekerja tersebut (termasuk Pak Wawan) hanya bisa menghembuskan napas dengan kenekatan kami.

Kami diantar ke sebuah masjid di depan jalan masuk ke Desa Bangsring satu persatu oleh salah seorang pekerja wanita. Aku rasa mereka juga mengerti. Karena saat ditawarkan untuk diantar, kami sempat menolak dan Pak Wawan langsung berkata:

“Ga papa, kok. Ntar yang ngantar mbak yang tadi itu, lho.”

Setelah beliau berkata seperti itu, kami semua langsung mengiyakan tawaran tersebut.

Kami beristirahat lagi di masjid tersebut hingga angkot yang sudah kami pesan datang menjemput. Tapi rupanya kami tidak ke terminal. Aku tidak mengetahuinya, tapi sepertinya Mbak Nurin sudah bertanya-tanya pada Pak Wawan apakah ada masjid yang memperbolehkan pengunjungnya untuk tidur disana.

Pada akhirnya, kami turun disebuah pesantren wanita. Mbak Nurin dan Mbak Iris langsung masuk ke pesantren dan menemui siapapun-yang-berkuasa-disana. Setelah menunggu sekitar setengah jam, kami mendapat jawaban positif dan kami boleh beristirahat di lantai dua masjid pesantren tersebut dimana ada aula khusus perempuan.

Syukur Alhamdulillah, kami dapat tempat beristirahat yang jaaauuuh lebih layak dibanding mushalla terminal yang—baru aku sadari saat bangun—ternyata agak kotor. Teman-teman langsung membersihkan diri di kamar mandi masjid. Selain itu, anak-anak pesantren yang mengantar kami juga lucu sekali =))

blog1

Kami angkat kaki dari masjid tepat setelah adzan Subuh. Kami tidak menemui siapapun-yang-berkuasa-disana lagi, tapi hanya pamit melalui satpam masjid. Sayangnya, tidak ada angkot yang lewat saat itu sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju stasiun. Fyi, jarak stasiun sekitar tiga kilometer. Jadi bayangkan saja, sudah dua malam kami berada di jalanan Banyuwangi saat dini hari…

blog2Ayo yang mau ke Bali, tinggal lurus, tinggal luruus

Kami sampai di Indomaret depan stasiun sekitar pukul 04.30. Karena uang di dompetku hanya tinggal Rp4,000 (aku berada di kota orang dan tak memiliki uang, hikseu), aku dan Kak Meli memutuskan untuk mencari ATM ke area depan Pelabuhan Ketapang maunya abis itu langsung nyeberang ke Bali. Tentu saja, jalan kaki lagi. Jaraknya hanya sekitar 50 meter, jadi bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah, semua ATM Mandiri di area itu rusak. Frustasi? Iyaaah! Akhirnya setelah bolak-balik, aku mengambil uang melalui ATM BNI (kena charging 8K! Duit oweeh!).

Kami berdua berlari menuju stasiun dibarengi oleh suara bapak-bapak penjual nasi kucing, “Ayo, mbaaak! Kereta ke Malang udah mau berangkat!”

Tidak ada yang lebih melegakan selain karena kami sudah masuk ke kereta yang—Alhamdulillah—Ekonomi AC. Apalagi saat itu kereta api masih sepi sehingga kami bisa leyeh-leyeh dengan menduduki tempat duduk lain yang masih kosong.

Begitu kereta mulai berjalan, Kak Tika bercerita tentang bapak-bapak yang mengira kami mahasiswa yang berasal dari Yogjakarta. Mungkin beliau melihat Kak Tika sudah senewen menungguku dan Kak Meli yang tidak muncul-muncul juga.

“Santai, mbak. Keretanya masih jam setengah tujuh. Yogyakarta, kan?”

“Bukan, pak. Saya mau ke Malang.”

“Lho, Malang berangkat sekarang, mbak!” ujar bapak-bapak itu, setengah histeris, ujar Kak Tika.

“Ya itu, pak. Masalahnya dua teman saya belum nyampe.”

Setelah mengobrol satu-dua jam, satu persatu dari kami ambruk. Sesekali kami terbangun, mengobrol lagi, bermain UNO (aku tidak ikut), kemudian tidur lagi. Perjalanan selama sembilan jam di kereta api benar-benar terasa lamanya. Apalagi kereta apinya berjalan dengan lambat sekali. Kami berhenti cukup lama di Bangil saat mengganti posisi kepala kereta (ya ampun ini random).

Kami sampai di Malang sekitar pukul dua siang. Kami semua langsung berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing. Aku sendiri langsung kembali ke kos setelah tadinya hendak ikut Kak Tika dan Kak Meli mencari makan. Aku berencana untuk langsung mandi, beristirahat hingga pukul empat dan kemudian pergi ke kampus untuk mendatangi Minori dan (sisa-sisa) ECIOT. Tapi apa daya, aku teler sampai malam. Begitu sampai kos, aku baru sadar bahwa rupanya aku kelelahan. Apalagi setelah bermain di laut, tubuhku sakit semua.

Aku berpikir untuk membeli alat snorkeling sendiri. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta dengan aktifitas ini. Sebenarnya aku juga ingin merasakan pengalaman naik-turun gunung. Tapi sepertinya aku jauh lebih mencintai lokasi yang memiliki banyak airnya.

Arung jeram. Setelah ini aku ingin mencoba arung jeram.

Advertisements

Iya, gak papa. Ngomong aja.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s